Perkuat Pemahaman Mahasiswa tentang Pembelajaran Mendalam
Kampus UNESA 5 – Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) UNESA Kampus 5 kembali menghadirkan pembelajaran yang memperkaya wawasan mahasiswa melalui kegiatan Praktisi Mengajar. Pada kesempatan tersebut, mahasiswa mengikuti kuliah praktisi yang menghadirkan Ibu Chitra Sintarani, seorang guru sekaligus Fasilitator Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai implementasi pembelajaran mendalam sebagai arah baru transformasi pendidikan di Indonesia.
Sejak awal kegiatan, suasana pembelajaran berlangsung interaktif. Ibu Chitra mengawali sesi dengan menyampaikan kontrak perkuliahan, kemudian mengajak mahasiswa mengamati dua video reflektif mengenai praktik pembelajaran di kelas. Video pertama menggambarkan seorang guru yang mengajukan beberapa pertanyaan berbeda kepada siswa, namun siswa terus memberikan jawaban yang sama. Sementara video kedua menampilkan seorang guru yang membangkitkan motivasi belajar bahasa Inggris melalui pendekatan kreatif berupa permainan sulap.
Melalui kedua tayangan tersebut, mahasiswa diajak melakukan refleksi bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik, kebutuhan, dan cara belajar yang berbeda. Oleh karena itu, guru tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator yang mampu membimbing, memotivasi, serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.
Dalam pemaparannya, Ibu Chitra menegaskan bahwa kualitas pendidikan merupakan fondasi utama kemajuan suatu bangsa. Menurutnya, semakin baik kualitas pendidikan yang dimiliki sebuah negara, maka semakin besar pula peluang negara tersebut untuk berkembang. Oleh sebab itu, calon guru perlu memiliki pola pikir yang terus berkembang agar mampu menghadapi berbagai perubahan dalam dunia pendidikan.
Sebelum memasuki materi utama mengenai Deep Learning, mahasiswa diperkenalkan pada konsep Growth Mindset, yaitu pola pikir berkembang yang mendorong seseorang untuk terus belajar, terbuka terhadap kritik dan masukan, serta tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Guru yang memiliki growth mindset akan menjadikan setiap hambatan sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Sebaliknya, guru yang masih berada dalam fixed mindset cenderung mempertahankan cara mengajar yang sama tanpa melakukan inovasi.
Ibu Chitra menjelaskan bahwa Growth Mindset merupakan fondasi penting dalam mewujudkan pembelajaran mendalam. Perjalanan seorang guru menuju deep learning dimulai dari perubahan cara berpikir. Banyak pendidik masih berada pada tahap surface learning, yaitu pembelajaran yang hanya berfokus pada penyampaian materi secara rutin. Untuk mencapai pembelajaran yang lebih bermakna, guru harus berani keluar dari zona nyaman, menghadapi tantangan, serta terus mengembangkan kompetensi profesionalnya. Melalui growth mindset, guru akan lebih siap beradaptasi terhadap perubahan kurikulum maupun perkembangan kebutuhan peserta didik.
Pada sesi inti, mahasiswa memperoleh pemahaman mengenai konsep Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang menekankan proses belajar secara sadar, bermakna, dan menyenangkan. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga mengembangkan karakter, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta kesejahteraan peserta didik.
Dalam implementasinya, pembelajaran mendalam menekankan keseimbangan empat dimensi utama, yaitu olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Olah pikir berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah. Olah hati menanamkan nilai-nilai moral, integritas, tanggung jawab, dan karakter positif. Olah rasa mengembangkan empati, kreativitas, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial. Sementara itu, olah raga mendorong aktivitas fisik yang mendukung kesehatan, konsentrasi, dan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan.
Ibu Chitra mengingatkan bahwa dalam praktik pembelajaran di sekolah, masih banyak guru yang hanya menitikberatkan pada aspek olah pikir. Padahal, pembelajaran yang berkualitas harus mampu mengintegrasikan keempat aspek tersebut agar perkembangan peserta didik berlangsung secara utuh, baik dari sisi intelektual, emosional, sosial, maupun fisik.
Selain itu, mahasiswa juga dikenalkan dengan perubahan konsep Profil Pelajar Pancasila menjadi Dimensi Profil Lulusan, yang menekankan kompetensi lulusan secara lebih komprehensif. Dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kompetensi kewargaan, kemampuan bernalar kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, serta kesehatan jasmani dan mental sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.
Dalam pembelajaran mendalam, terdapat tiga prinsip utama yang harus menjadi perhatian guru. Pertama, prinsip berkesadaran (mindful learning), yaitu pembelajaran yang membuat peserta didik merasa nyaman, mampu memahami proses berpikirnya sendiri, serta aktif menentukan strategi belajar. Kedua, prinsip bermakna (meaningful learning), yaitu pembelajaran yang relevan dengan kehidupan nyata, kontekstual, dan mendorong siswa menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya. Ketiga, prinsip menggembirakan (joyful learning), yaitu pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, menginspirasi, sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkreasi, berinisiatif, dan menemukan pengalaman belajar yang berkesan.
Pada sesi akhir, mahasiswa juga memperoleh pemahaman mengenai sistem asesmen dalam pembelajaran mendalam. Ibu Chitra menjelaskan bahwa terdapat dua bentuk asesmen yang saling melengkapi. Asesmen formatif dilaksanakan pada awal maupun selama proses pembelajaran sebagai dasar pemberian umpan balik untuk memperbaiki proses belajar. Sementara asesmen sumatif dilakukan pada akhir pembelajaran untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran dan menjadi dasar penilaian hasil belajar peserta didik.
Koordinator Program Studi S1 PGSD UNESA Kampus 5, Dr. Delia Indrawati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kehadiran praktisi memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi mahasiswa.
"Melalui kegiatan Praktisi Mengajar, mahasiswa memperoleh wawasan langsung dari praktisi yang berpengalaman dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan terbaru. Hal ini diharapkan mampu memperkuat kompetensi pedagogik mahasiswa sehingga mereka siap menjadi guru yang inovatif, reflektif, dan mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik," ujarnya.
Kegiatan Praktisi Mengajar ini menjadi bagian dari komitmen PGSD UNESA Kampus 5 dalam menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan kebijakan pendidikan nasional. Melalui kolaborasi dengan praktisi, mahasiswa tidak hanya memahami teori di ruang kuliah, tetapi juga memperoleh pengalaman autentik mengenai implementasi pembelajaran mendalam yang relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan, kegiatan ini juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kompetensi calon guru, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penguatan aspek kesejahteraan peserta didik dalam proses pembelajaran, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan praktisi pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.