Menggali Jiwa Edupreneurship: Mahasiswa PGSD UNESA Eksplorasi Strategi Bisnis Kreatif dan Kuliner Legendaris di Yogyakarta
Yogyakarta, 2 Juni 2026 - Telah dilaksanakan kegiatan Kunjungan Studi Banding Edupreneurship Kuliner dan Industri Kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta oleh Mahasiswa Program Studi S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) PSDKU Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Angkatan 2024.
Dibawah bimbingan dosen pengampu Delia Indrawati, S.Pd., M.Pd., kegiatan yang dimulai sejak pukul 02.30 WIB dini hari ini bertujuan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual. Mahasiswa ditantang untuk tidak hanya memahami teori di ruang kelas, tetapi juga melihat bagaimana unsur pendidikan dan kewirausahaan menyatu dalam praktik nyata dunia UMKM.
Eksperimen Open Kitchen: Ketika Calon Guru Belajar Bikin Bakpia
Destinasi pertama membawa rombongan mendarat di Pabrik Bakpia Jogkem (Jogja Kembali) di kawasan Mantrijeron pada pukul 08.30 WIB. Di sana, mahasiswa disambut hangat oleh Syahrul, perwakilan divisi sales yang memaparkan kilas balik perjalanan Jogkem sejak tahun 2011.
Mahasiswa tampak antusias saat mengupas tuntas bagaimana Jogkem mempertahankan komitmen rasa autentik handmade (tanpa mesin) dan tanpa bahan pengawet di tengah gempuran ratusan merek bakpia modern.
Pengalaman Langsung: Mahasiswa tidak cuma duduk manis mencatat. Mereka langsung digiring ke area open kitchen, disuruh mencuci tangan, dan ditantang mempraktikkan seni membulatkan adonan bakpia secara presisi. Dari sini mereka sadar, di balik kelembutan sebutir bakpia basah tanpa pengawet, ada manajemen kualitas dan detail SDM yang sangat ketat.
Menelusuri Jejak Kaos Gareng: Dari PKL Malioboro Jadi Gurita Bisnis 24 Tahun
Dari aroma kue yang manis, perjalanan bergeser ke aroma cat sablon yang khas di Pabrik Kaos Gareng, Bantul. Di sana, mereka bertemu dengan Heru, sosok yang membagikan kisah luar biasa tentang ketahanan sebuah merek lokal.
Siapa sangka, kaos yang punya kepanjangan bahasa Jawa filosofis "Gadhah Karep Nyata Gaya" (Punya Keinginan Nyata dan Bergaya) ini dulunya berawal dari lapak kaki lima tanpa merek di trotoar Malioboro.
Mahasiswa diajak mengintip ruang konveksi, melihat cipratan cat sablon manual berkualitas tinggi yang anti-pecah, hingga membedah bagaimana kaos ini bisa bertahan hampir seperempat abad melewati berbagai badai krisis ekonomi. Pelajaran berharga hari itu: Arus kas (cash flow) adalah nyawa utama bisnis, bukan sekadar angka untung-rugi di atas kertas!
Dari Senja Parangtritis Hingga Malam Malioboro
Misi berburu ilmu edupreneurship ini ditutup dengan selebrasi visual yang epik. Pukul 15.00 WIB, rombongan bergerak ke Pantai Parangtritis, mengamati bagaimana deburan ombak selatan bisa menjadi magnet ekonomi yang menghidupkan ratusan pedagang lokal.
Klimaks dari perjalanan ini terjadi saat lampu-lampu kota mulai menyala di Jalan Malioboro. Di bawah langit malam yang syahdu, mahasiswa menyusuri trotoar, melakukan observasi penataan PKL pasca-relokasi.
Tepat pukul 22.00 WIB, bus rombongan mendarat kembali di Surabaya. Mereka tidak hanya pulang membawa oleh-oleh di tangan, tetapi juga membawa satu ransel penuh inspirasi, kreativitas, dan mentalitas petarung kewirausahaan yang siap mereka tumpahkan ke dalam ruang-ruang kelas sekolah dasar di masa depan. Sebab, guru yang hebat adalah guru yang tahu bagaimana dunia nyata bekerja!