PjBL Sebagai Model Pendekatan Belajar Dengan Aktivitas Bermain
Pernahkah bapak/ibu guru melihat siswa yang belajar namun lesu, menguap, melamun, bahkan tertidur? Atau saat dijelaskan peserta didik malah bermain sendiri?
Pendidikan pada jenjang sekolah dasar merupakan Pendidikan yang banyak mengalami tantangan, salah satunya yaitu keberagaman gaya belajar. Dimana ketika pembelajaran dilakukan secara monoton, kaku, dan hanya berpusat pada guru (ceramah), seringkali mengakibatkan sebagian siswa merasa bosan, dan kehilangan motivasi karena metode tersebut hanya melayani satu atau dua gaya belajar saja. Keberagaman gaya belajar tersebut diantaranya, auditori yaitu mengerti dan memahami materi hanya dengan mendengarkan penjelasan dari guru, jadi pendengarannya merupakan alat utama dalam menyerap informasi dan pengetahuan. Gaya belajar yang kedua adalah visual learning, yaitu gaya belajar dengan cara melihat atau mencatat dengan penglihatan sebagai alat utama. Dan yang ketiga adalah gaya belajar kinestetik, yaitu peserta didik lebih mudah memahami materi apabila mereka mencobanya. Peserta didik yang memiliki gaya belajar kinestetik ini, terkadang menganggap belajar dengan membaca dan mendengarkan adalah kegiatan yang membosankan. Keberagaman inilah yang menjadi salah satu tantangan bagi guru sekolah dasar.
Oleh karena itu, sebagai guru kita harus bisa mengubah kelas menjadi tempat yang menyenangkan sekaligus bermakna, dan dapat melayani keberagaman gaya belajar siswa, yaitu dapat dilakukan melalui implementasi belajar sambil bermain dengan pendekatan project based learning (pjbl)
Mengapa harus dengan bermain? Bermain bagi anak, merupakan pekerjaan utama mereka, bukan hanya sebatas pengisi waktu luang. Menurut Piaget (1973), bermain adalah sarana anak untuk berinteraksi dengan lingkungannya dan membangun struktur kognitif. Sehingga melalui bermain dapat membantu pembentukan saraf yang kuat, melatih ketrampilan sosial seperti berbagi saling tolong-menolong, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Selain itu dengan bermain juga akan membangun dan meningkatkan kreativitas siswa. Dalam pembelajaran dikelas, bermain dikemas dalam berbagai bentuk seperti simulasi, permainan edukatif, permainan angka dan huruf, serta kegiatan seni.
Model pembelajaran Project Based Learning menjadikan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, dengan proses belajar yang memiliki hasil akhir berupa produk. Melalui model ini peserta didik diharapkan mampu berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dalam penerapannya, pembelajaran berbasis proyek ini senada dengan konsep belajar sambil bermain, karena melalui proyek-proyek sederhana yang dikemas dalam bentuk permainan edukatif akan mengajak siswa belajar secara aktif, Keatif, dan menyenangkan. Misalnya dalam pembelajaran IPAS, guru dapat mengajak siswa untuk membuat miniatur hewan kesukaan atau hewan peliharaan. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kreativitas, tetapi juga memberikan pemahaman terhadap peserta didik bahwa bentuk tubuh dan karakteristik setiap hewan itu berbeda.
Namun melalui model PjBL ini, guru juga harus bisa menyesuaikan proyek dengan berbagai gaya belajar siswa, agar setiap siswa memiliki ruang yang sama untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
Berikut ini, contoh kegiatan bermain dengan pendekatan Project Based Leraning yang dapat diterapkan.
1. Membuat Kolase Hewan Kesukaan atau Hewan Peliharaan
Kegiatan ini memiliki tema mengenali hewan, dimana kegiatan yang dapat dilakukan berupa membuat kolase hewan kesukaan dari beberapa jenis biji-bijian. Kegiatan ini dapat membangun kreativitas, dan ketelitian.
2. Proyek “Berkebun”
Yaitu kegiatan yang dilakukan dengan menanam tanaman sayur atau Bungan dalam pot atau taman depan kelas. Kegiatan ini akan melatih siswa untuk bertanggung jawab dan kreativitas dalam Menyusun tanaman sayur dan bunga.
3. Pagelaran Drama “Cerita Rakyat Indonesia”
Kegiatan ini bertema tentang kebudayaan Indonesia, dimana siswa dapat diinstruksikan untuk memilih cerita rakyat dari berbagai daerah, menulis naskah, membuat property sederhana untuk pagelaran (misalnya baju dan cangkul dari kertas), dan menampilkan drama. Pagelaran ini akan melatih kerja sama, membangun kreativitas, dan kemampuan komunikasi.
Perlu diingat, produk hanyalah hasil akhir, namun proses pembelajaran adalah aspek pertama dalam membantu meningkatkan kreativitas siswa. Dengan menjadikan pembelajaran menyenangkan melalui proyek, keberagaman gaya belajar siswa akan terfasilitasi.
Selamat dan semangat menjadi guru yang memiliki kelas penuh petualangan!