Mengapa Literasi Digital Bukan Sekedar Skill, Tapi Kompetensi Wajib Guru Masa Kini?
Pada saat ini kita telah memasuki era super smart society (society 5.0), era ini merupakan konsep masyarakat masa depan yang mengintegrasikan ruang fisik dan digital secara harmonis untuk peningkatan kualitas hidup manusia. Pemerintah Jepang pertama kali memperkenalkan era ini bertujuan untuk menjawab berbagai tantangan di era revolusi industry 4.0 dengan menempatkan manusia sebagai pusat inovasi digital.(Madrah, Muflihin, and Irfan 2022) Namun transformasi ini juga mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk juga bidang Pendidikan. Perubahan tersebut harus direspon pendidik secara bijak yaitu dengan upaya menyesuaikan kompetensi pendidik agar mampu mengoperasikan teknologi. Serta dunia Pendidikan dapat terus menyesuaikan diri dengan perubahan, terutama dalam era digital. Pendidik sebagai pengendali Pendidikan memiliki peran penting dalam pengolahan pembelajaran sehingga membutuhkan kemampuan literasi digital yang memadai. Kemampuan dalam konteks ini merajuk pada kemampuan pendidik dalam mengintergrasikan teknologi informasi dan komunukasi di dalam pembelajaran. Kemampuan literasi digital pendidik dapat diasah memalui berbagai cara diantaranya adalah melalui pendampingan dan pelatihan. Sejak tahun 2016 pemerintah menggagas Gerakan Literasi nasional(GLN) untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi diseluruh lapisan masyarakat, khususnya dunia Pendidikan. Literasi digital menjadi pilar penting bagi masa depan Pendidikan. namun program tersebut belum terlaksana dengan baik akibat kuatitas pendidik di Indonesia cukup banyak. Literasi digital tidak dapat dipandang sebagai tambahan kemampuan, melainkan sebuah kebutuhan esensial dalam profesi pendidik. Tanpa literasi digital, pendidik akan kesulitan mengikuti perkembangan kurikulum, mengakses sumber belajar modern, maupun memahami karakteristik peserta didik masa kini yang sangat akrab dengan teknologi.
Pendidikan yang bermutu dan merata merupakan prioritas utama pembangunan global sebagaimana tercantum dalam subtainable development goals(SDGs). Adapun 17 tujuan Sustainable Development Goals (SDGs 2030), diantaranya :
1. Mengakhiri kemiskinan. Tujuan tersebut merupakan tema pembangunan, tantangan terpenting dan berkelanjutan yang melandasi berbagai tujuan pembangunan lainnya, seperti infrastruktur, pariwisata, pangan, energi, dan lain-lain.
2. Zero Hunger. Tujuan kedua dari 17 SDGs adalah mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan, meningkatkan gizi dan mendorong pertanian berkelanjutan.
3. Kehidupan yang sehat dan sejahtera (health and wellbeing). Menjamin kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di semua kelompok usia. Fokus tujuan tersebut mencakup berbagai persoalan mulai dari ketahanan pangan masyarakat, sistem Kesehatan nasional, akses kesehatan dan reproduksi, Keluarga Berencana (KB), sanitasi, dan air bersih.
4. Pendidikan berkualitas. Memastikan pendidikan berkualitas yang inklusif dan adil serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua kalangan masyarakat. Peningkatan pendidikan akan memfasilitasi pencapaian tujuan dan target lain dalam 17 SDGs, dan khususnya akan mengarah pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
5. Kesetaraan gender. Kesetaraan gender dan pemberdayaan seluruh perempuan dan anak perempuan. Kesetaraan gender memperkuat kapasitas negara dalam pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan tata kelola yang efektif.
6. Air Bersih dan Sanitasi. Menjamin ketersediaan dan pengelolaan air dan sanitasi yang berkelanjutan untuk semua. Air bersih dan sanitasi yang layak merupakan kebutuhan dasar manusia.
7. Energi yang terjangkau dan bersih. Memastikan akses terhadap energi yang terjangkau,
andal, berkelanjutan, dan modern untuk semua. Energi dan penggunaannya harus seefisien, berkelanjutan, dan terbarukan.
8. Pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif
dan berkelanjutan, kesempatan kerja yang penuh dan produktif serta mendorong pekerjaan yang layak untuk semua.
9. Industri, inovasi dan infrastruktur. Membangun infrastruktur yang tangguh, mendorongindustrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi. Investasi berkelanjutan di bidang infrastruktur dan inovasi merupakan pendorong utama pertumbuhan dan pembangunan ekonomi
10. Mengurangi ketimpangan. Mengurangi kesenjangan dalam negara dan antar negara di seluruh dunia. Ketimpangan pendapatan kini menjadi permasalahan global yang memerlukan solusi. Pemecahan masalah ini memerlukan pendekatan terpadu.
11. Kota dan permukiman berkelanjutan (Kota dan Komunitas Berkelanjutan). Menjadikan kota dan permukiman inklusif, aman, berketahanan, dan berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah membangun kota yang aman dan berkelanjutan. Hal ini juga mencakup investasi pada transportasi umum lokal, penciptaan ruang hijau bagi publik, dan peningkatan perencanaan kota dan pemerintahan yang komprehensif.
12. Konsumsi yang bertanggung jawab dan produksi yang bertanggung jawab. Memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan Pembangunan Berkelanjutan memerlukan kesadaran akan pentingnya mengurangi dampak lingkungan dengan mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi makanan dan sumber daya lainnya.
13. Penanganan perubahan iklim. Mengambil tindakan sesegera mungkin untuk memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Tidak ada satu negara pun di dunia yang tidak merasakan dampak perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca terus meningkat dan pemanasan global menyebabkan perubahan permanen pada iklim dunia.
14. Ekosistem laut (kehidupan bawah air. Konservasi berkelanjutan dan pemanfaatan lautan, wilayah laut, dan sumber daya kelautan untuk Pembangunan Berkelanjutan. Lautan dan segala isinya adalah pusat sistem bumi yang menjadikan bumi layak huni bagi manusia. Berurusan dengan samudra dan lautan sangatlah penting bagi setiap kehidupan manusia.
15. Ekosistem terestrial (kehidupan darat). Melindungi, memulihkan, dan memperluas pemanfaatan ekosistem terestrial secara berkelanjutan. Pengelolaan hutan secara berkelanjutan juga penting untuk menghentikan penggurunan, membalikkan degradasi lahan, dan menghentikan hilangnya keanekaragaman hayati.
16. Perdamaian keadilan dan kelembagaan yang tangguh. Memperkuat masyarakat yang inklusif dan damai untuk Pembangunan Berkelanjutan. Pembangunan, memastikan keadilan bagi semua dan membangun akses kelembagaan yang efektif, akuntabel dan inklusif di semua tingkatan.
17. Kemitraan untuk mencapai tujuan akhir dari 17 SDGs adalah kerja sama global untuk
mencapai tujuan keberlanjutan. Sasaran-sasaran tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama antara negara-negara dunia bagian utara dan negara-negara dunia bagian selatan, dengan mendukung rencana nasional untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut(Juniarty 2024)
sesuai dengan keterangan diatas khususnya tujuan ke empat yaitu “Quality education” yaitu tujuan untuk memastikan Pendidikan yang inklusif, setara dan berkualitas, serta mempromosikan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang. Serta tujuan ke sepuluh yaitu “reduced inequalities” yang bertujuan untuk mengurangi ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 merupakan suatu sistem yang saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pembangunan Berkelanjutan berarti mengintegrasikan berbagai aspek lingkungan, sosial dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin integritas lingkungan, serta keselamatan, keterampilan dan kesejahteraan. Dalam konteks Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, kesetaraan pendidikan diakui sebagai landasan utama untuk mencapai tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pendidikan yang adil dan berkualitas mempunyai dampak yang luas tidak hanya pada kehidupan individu, namun juga pada pembangunan ekonomi negara, peningkatan kondisi kesehatan, dan kemajuan sosial. Pendidikan menjadi landasan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia agar menjadi manusia yang lebih baik, terbuka, dan bijaksana. Dengan adanya pendidikan yang berkualitas dapat mendorong dan memperbaiki kondisi sosial dan ekonomi. Pendidikan adalah suatu proses pengembang diri seseorang berupa pola pikir, sikap, budi pekerti, dan bahasa, yang kontribusinya dalam kehidupan bermasyarakat di tentukan oleh Pendidikan. Pendidikan juga upaya sitematis untuk mengembangkan potensi individu, pendidikan dan membekali setiap individu dengan kemampuan berperan dalam lingkungan sosial. Upaya mewujudkan pemerataan pendidikan yang bersifat komprehensif dan mempertimbangkan kebutuhan serta tantangan masing-masing individu dan kelompok. Sehubungan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, penyediaan pendidikan telah menjadi tantangan negara di seluruh dunia untuk membangun sistem pendidikan yang berkualitas, adil, mudah diakses, dan merata. Oleh karena itu, dalam upaya mencapai sustainable development goals (SDGs) 2030, penting untuk mengedepankan pemerataan pendidikan dan menanamkannya dalam seluruh aspek pembangunan.
ISI
Perkembangan teknologi yang pesat saat ini menuntut guru beradaptasi dan memanfaatkan teknologi sebagai bagian integral dalam pembelajaran. Literasi digital bukan hanya sekedar keterampilan tambahan, namun kompetensi dasar yang harus wajib dimiliki setiap pendidik di era modern. Ketika seorang guru memiliki kemampuan literasi digital yang baik, dampak terhadap proses dan hasil pembelajaran sangat positif, literasi digital memiliki dampak signifikan terhadap peningkatan kompetensi pedagogis guru yaitu kemampuan mengelola kelas, pengembangan kurikulum, koloborasi dengan guru lain, dan kreativitas pembelajaran. salah satu kemampuan guru dalam literasi digital adalah mendesain pembelajaran yang interaktif, guru mampu memanfaatkan berbagai sumber digital untuk menciptakan aktivitas belajar menjadi menarik, seperti diskusi daring, kuis interaktif dan proyek kolaboratif berbasis media digital. Contohnya guru dapat memanfaatkan media digital, aplikasi pembelajaran, video, maupun platform daring seperti google classroom, canva for education, quizizz, dan padlet untuk dapat meningkatkan partisipasi siswa. Penggunaan media digital ini mampu meningkatkan motivasi belajar dalam diri siswa karena dapat memberikan pengalaman belajar secara visual dan kontekstual.
Namun meskipun urgensi literasi digital sangat besar, masih ada kendala tantangan implementasi pada guru di Indonesia. Tinjauan literatur mengungkapkan babarapa tantangan utama yang menghambat akses Pendidikan apa lagi pada daerah yang terpencil. Salah satunya adalah kurangnya insfraktutur digital yang kurang memadai. Keterbatasan akses internet, listrik dan perangkat keras digital merupakan hambatan yang signifikan. Keterbatasan insfastruktur diperparah oleh masalah geografis, seperti medan yang sulit dijangkau dan jarak yang jauh antara sekolah dan rumah siswa. Kurangnya keterampilan digital dikalangan guru dan siswa juga menjadi tantangan utama, kurangnya pelatihan dan dukungan dalam penggunaan teknologi dapat menghambat potensi pembelajaran digital. Literasi digital yang rendah dapat membatasi kemampuan siswa untuk mengakses informasi dan berpartisipasi dalam pembelajaran online. Kesenjangan ini juga memperburuk ketidaksetaraan sosial ekonomi, karena siswa dari keruarga berpenghasilan rendah memiliki akses yang lebih terbatas terhadap sumber daya digital.(Muhammad 2025) Tantangan lainnya yaitu beberapa guru masih melihat teknologi sebagai pembelajaran opsional, bukan bagian dari inti kompetensi pedagogis mereka. Akibatnya pembelajaran cenderung dipaksakan dan hanya sebagai tampilan bukan kompetensi wajib dalam pembelajaran.
Literasi digital bukan hanya kemampuan teknis menggunakan perangkat, melainkan keterampilan berpikir tinggi yang memungkinkan guru berinovasi dalam pembelajaran. guru harus mampu merancang pembelajaran berbasis proyek, simulasi, atau multimedia interaktif yang mendorong siswa untuk berpikir kreatif dan kritis. Kemampuan ini sangat penting karena mendukung pembelajan yang berpusat pada siswa serta menumbuhkan kemandirian belajar. Inovasi pembelajaran digital memungkinkan terwujudnya model pembelajaran yang fleksibel, seperti blended learning dan flipped classroom. Blended Learning adalah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih fleksibel dan efektif. Dalam model ini, siswa diberikan kesempatan untuk belajar materi secara daring, baik melalui video, materi teks, atau modul online, dan kemudian berinteraksi langsung dengan guru dan teman sekelas dalam sesi tatap muka untuk memperdalam pemahaman mereka melalui diskusi dan kegiatan kolaboratif. Flipped Classroom atau kelas terbalik adalah model pembelajaran yang membalikkan peran tradisional antara guru dan siswa. Dalam model ini, siswa mempelajari materi terlebih dahulu melalui sumber daya daring, seperti video, artikel, atau modul, sebelum mengikuti pertemuan tatap muka di kelas. Waktu kelas kemudian digunakan untuk kegiatan yang lebih interaktif, seperti diskusi, pemecahan masalah, atau proyek kolaboratif, yang memungkinkan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang telah dipelajari. Dengan menggunakan metode tersebut maka siswa di daerah terpencil yang akses guru, buku dan fasilitas pembelajaran dapat dilakukan secara inklusif dan merata.(Strategy 2025) Hal ini menunjukkan bahwa literasi digital guru adalah kunci dalam mengurangi kesenjangan Pendidikan antar wilayah dan antar kelompok sosial. Guru yang literat digital memiliki peran strategis sebagai penentu kesetaraan akses Pendidikan, terutama bagi siswa didaerah terpencil yang sering mengalami keterbatasan. Diera digital ini, literasi digital guru tidak hanya memperluas ruang pembelajaran, tetapi juga menjembatani kesenjangan geografis dan sosial yang menjadi hambatan utama dalam pemerataan Pendidikan. melalui pemanfaatan teknologi, guru dapat menghadirkan pembelajaran daring, modul digital, dan media interaktif yang memungkinkan siswa yang berada diwilayah dengan keterbatasan bisa memiliki pengalaman belajar yang setara dengan siswa di daerah perkotaan. Oleh sebab itu penguatan literasi digital guru di seluruh wilayah Indonesia harus menjadi prioritas. Pemerintah dan Lembaga Pendidikan harus menyediakan pelatihan digital yang berkelanjutan, memperluas jaringan internet di daerah terpencil, dan menciptakan pembelajaran yang mendukung pemerataan akses. Dengan Langkah tersebut guru tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga agen perubahan sosial yang memastikan setiap anak Indonesia dapat memiliki hak yang sama dalam memperoleh Pendidikan yang bermutu tanpa terkendala oleh jarak dan kondisi geografis. Peningkatan literasi digital pada guru membawa implikasi penting terhadap kebijakan Pendidikan di Indonesia. Literasi digital bukan hanya kebutuhan tambahan, tetapi juga kebutuhan utama dalam Pendidikan di era modern. Sebab itu perlu adanya kebijakan menyeluruh dan berkelanjutan untuk memastikan guru dapat memiliki kompetensi digital yang memadai.
1. Pemerintah perlu memperluas program pelatihan dan sertifikasi bagi tenaga pendidik. Pelatihan ini berfokus pada pemanfaatan media digital untuk pembelajaran kreatif, desain interaktif, dan strategi pedagogis berbasis teknologi. Program ini harus disesuaikan dengan kondisi suatu daerah agar releven bagi guru diwilayah terpencil.
2. Ketersediaan insfraktruktur digital harus menjadi prioritas. Jaringan internet yang stabil, perangkat teknologi yang memadai, dukungan dari sumber daya digital, dengan ini kemampuan literasi guru dapat berkembang secara optimal.
3. Lembaga Pendidikan dan guru perlu berperan aktif dalam memperkuat literasi digital melalui penelitian, pengabdian masyarakat, dan pendampingan,
4. Mengintegrasikan literasi digital dalam kurikulum Pendidikan dan program pengembangan profesional berkelanjutan. Dengan demikian calon guru sudah dibekali sejak awal dengan kemampuan berfikir kritis, kreatif, dan adaptif terhadap teknologi.
Jika program tersebut dapat dijalankan dengan benar, maka literasi digital guru dapat menjadi penggerak utama transformasi Pendidikan. Guru yang memiliki kemampuan digital tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai inspirator yang dapat membuka akses belajar dan mengurangi kesenjangan Pendidikan di wilayah Indonesia. Dengan ini generasi di Indonesia dapat mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu menciptakan dunia yang lebih baik, adil, dan berkelanjutan bagi semua orang dengan mengakhiri kemiskinan, melindungi planet, dan memastikan kesejahteraan di tahun 2030. Hal ini dicapai melalui 17 tujuan global yang saling terkait, yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.
PENUTUP
Literasi digital merupakan dampak dari kemajuan teknologi yang pesat dalam aspek kehidupan. Pendidikan yang berkualitas adalah faktor utama dalam kemajuan bangsa. Generasi saat ini adalah generasi dengan usia prokdutif, hal ini menjadi peluang Indonesia untuk meningkatkan Pendidikan yang berkualitas dan merata dengan memanfaatkan perkembangan teknologi melalui literasi digital, yaitu melalui program sustainable development goals (SDGs) 2030. Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs) merupakan suatu sistem yang saling berkaitan dan mempengaruhi. sustainable development goals (SDGs) sebagai tujuan bangsa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari semua aspek berkelanjutan. Kesenjangan digital adalah tantangan serius yang menghambat akses Pendidikan yang setara. Namun dengan pendekatan yang terencana kesenjangan ini dapat diatasi. Pemanfaatan teknologi saat ini menawarkan potensi besar untuk meningkatkan akses, kualitas, dan inklusivitas Pendidikan. guru harus mengadopsi strategi inovatif dan koloboratif secara efektif agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan berkelanjutan di daerah terpencil. Oleh sebab itu literasi guru digital merupakan kunci utama dalam mewujutkan Pendidikan yang merata dan berkualitas. Guru harus mampu memastikan setiap siswa memiliki kesempatan dan hak yang sama untuk belajar dan berkembang. Dengan ini Pendidikan tidak hanya menjadi sarana memperoleh pengetahuan, namun juga alat pemberdayaan sosial dan pemerataan kesenjangan.
DAFTAR PUSTAKA
Juniarty, Seni. 2024. “MEWUJUDKAN LITERASI DIGITAL PADA GENERASI Z : TANTANGAN DAN PELUANG MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS SDGS 2030.” 1(3): 166–80.
Madrah, Muna, Ahmad Muflihin, and Agus Irfan. 2022. “Madrah, Muna Muflihin, Ahmad Irfan, Agus.” 22: 115–32. doi:10.21580/dms.2022.221.10042.
Muhammad, Hasan. 2025. “Kesenjangan Digital Dan Akses Pendidikan : Telaah Literatur Tentang Strategi Inovatif Untuk Mengatasi Disparitas Di Daerah Terpencil.” 1(1): 1–10.
Strategy, 21st century; blended learning; education; flipped classroom; learning. 2025. “Online Journal System :” 5(1): 10–21.
Nama : Tasya Zaskia Putri
NIM : 2511174108
Kelas : PGSD2025C