Menemukan Makna Mengajar dengan Hati di Sekolah Dasar
Setiap calon guru pasti pernah membayangkan dirinya berdiri di depan kelas. Menjelaskan pelajaran, menulis di papan tulis, dan melihat mata-mata kecil yang berbinar penuh rasa ingin tahu. Namun, seiring berjalannya waktu, banyak dari kita menyadari bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan ilmu. Ada hal yang jauh lebih penting dan sering terlupakan, yakni mengajar dengan hati, atau yang dikenal dengan istilah pendidikan emosional.
Sebagai mahasiswa PGSD, kami sering diingatkan bahwa anak sekolah dasar bukan hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga sedang belajar memahami diri sendiri, mengenal perasaan, serta membangun hubungan dengan orang lain. Inilah fase di mana karakter mulai terbentuk, dan peran guru menjadi sangat menentukan.
Di bangku kuliah, kami belajar teori pembelajaran, strategi mengajar, dan perencanaan pembelajaran yang efektif. Namun saat memasuki microteaching atau praktik lapangan, kami sadar bahwa teori saja tidak cukup. Menghadapi siswa yang menangis karena kehilangan pensil, atau yang diam seharian karena bertengkar dengan teman, membuat kami belajar hal yang tidak tertulis di modul kuliah, yaitu empati.
Pendidikan emosional mengajarkan guru untuk peka terhadap perasaan siswa. Seorang anak yang tampak tidak fokus bukan selalu karena malas, bisa jadi ia sedang merasa sedih atau tidak percaya diri. Di sinilah tugas guru bukan hanya memberi soal, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk merasa aman dan dimengerti.
Menjadi guru berarti hadir secara utuh tidak hanya dengan pikiran, tapi juga dengan hati. Guru yang baik bukan hanya yang mampu membuat siswa paham rumus, tetapi yang juga mampu membuat mereka merasa percaya diri dan bahagia di sekolah. Sebagai calon guru PGSD, kami sedang belajar menjadi sosok seperti itu, guru yang mampu menatap mata anak dengan penuh pengertian, yang tahu kapan harus menegur dan kapan harus memeluk. Di balik papan tulis dan rencana pembelajaran, ada misi besar yang selalu kami bawa, yaitu menjadi guru yang mengajarkan kasih sayang dan kehidupan.
Salah satu metode yang mendukung pendidikan emosional sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir siswa adalah Problem Based Learning (PBL). Dalam PBL, siswa belajar dari masalah nyata di sekitar mereka. Guru tidak langsung memberi jawaban, melainkan memandu siswa untuk meneliti, berdiskusi, dan menemukan solusi sendiri.
Misalnya, guru mengajak siswa memecahkan masalah tentang lingkungan sekolah yang kotor. Anak-anak diajak untuk mengamati, berdiskusi, dan merancang aksi kebersihan bersama. Dalam proses ini, mereka belajar bekerja sama, menghargai pendapat teman, dan merasakan kepuasan saat ide mereka berhasil diterapkan. Lebih dari sekadar melatih berpikir kritis, PBL juga menumbuhkan kemampuan sosial dan emosional. Siswa belajar mengendalikan emosi saat berbeda pendapat, berani menyampaikan ide, dan memahami bahwa setiap anggota kelompok memiliki peran penting. Guru menjadi fasilitator yang menyalakan rasa ingin tahu, bukan sekadar pemberi tugas.
Pendidikan emosional mengingatkan kita bahwa setiap anak punya dunia kecilnya sendiri, dan tugas guru adalah membantu mereka tumbuh dengan bahagia di dalamnya. Sebab, di balik setiap pelajaran yang diajarkan, ada hati kecil yang sedang belajar memahami makna menjadi manusia.