Membangun Kesetaraan Ilmiah: Peran Guru Pemula dalam Pemanfaatan Platform Open-Access untuk Pendidikan Berkualitas
Pendidikan selalu jadi harapan besar bagi banyak orang. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang adil, beradab, dan sejahtera. Di tengah perkembangan teknologi yang begitu cepat, akses terhadap informasi terutama informasi sumber ilmiah menjadi kebutuhan pokok dalam proses belajar mengajar. Sayangnya, nggak semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengakses sumber-sumber ilmiah tersebut.
Banyak guru, terutama yang baru mulai kariernya, merasa tertinggal dalam hal ini. Mereka ingin belajar, ingin berkembang, ingin menulis dan berbagi pengalaman, tapi sering kali terhambat oleh akses. Jurnal-jurnal ilmiah yang jadi sumber utama dalam dunia akademik sering kali terkunci di balik sistem berbayar. Biayanya pun nggak murah dan jelas bukan prioritas bagi sekolah-sekolah yang bahkan masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Guru pemula, yang umumnya masih dalam tahap adaptasi dan pengembangan diri, memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam dunia pendidikan. Padahal, guru pemula punya semangat yang luar biasa. Mereka hadir dengan idealisme, dengan harapan, dan dengan keinginan untuk membuat perubahan. Mereka melihat langsung apa yang terjadi di kelas, menghadapi tantangan nyata, dan sering melakukan inovasi kecil yang berdampak besar. Sayangnya, pengalaman-pengalaman ini jarang terdokumentasi, apalagi dipublikasikan secara ilmiah.
Di sinilah konsep Open-Access (OA) hadir sebagai solusi. Open-Access adalah sistem publikasi yang memungkinkan siapa pun mengakses artikel secara gratis dan legal. Bukan hanya untuk dibaca, tapi juga untuk ditulis dan dibagikan. Guru pemula bisa memanfaatkan OA untuk memperluas wawasan, meningkatkan kualitas mengajar, dan bahkan menulis artikel sendiri. Ini bukan sekadar soal pengembangan diri, tapi juga soal keadilan dalam pendidikan.
Tulisan ini akan mengulas lebih dalam tentang gimana guru pemula bisa memanfaatkan platform Open-Access untuk menulis artikel ilmiah, tantangan yang mereka hadapi, serta solusi yang bisa diterapkan. Selain itu, akan dibahas juga bagaimana isu ini berkaitan dengan dua poin penting dalam Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDGs 10 tentang berkurangnya kesenjangan.
PERMASALAHAN
Masalah utama yang dihadapi guru pemula dalam menulis artikel ilmiah sebenarnya cukup kompleks. Pertama-tama, tentu soal akses. Banyak jurnal ilmiah yang hanya bisa dibaca jika kita membayar biaya langganan. Untuk guru di daerah atau yang mengajar di sekolah dengan anggaran terbatas, hal ini jelas jadi penghalang. Mereka ingin belajar, ingin menulis, tapi nggak tahu harus nyari referensi kemana. Bahkan ketika mereka sudah tau topik yang ingin ditulis, nyari sumber yang valid bisa jadi tantangan tersendiri. Kondisi ini menciptakan kesenjangan yang nyata antara mereka yang punya akses terhadap ilmu pengetahuan dan mereka yang nggak punya akses (RevoEdu, 2025).
Menurut studi Martín-Martín et al. (2018), hanya sekitar 54,6% dokumen ilmiah di Google Scholar yang bisa diakses secara bebas. Sisanya masih terkunci di balik sistem berbayar. Artinya, hampir separuh dari pengetahuan dunia masih belum bisa dijangkau oleh banyak orang. Ini bukan hanya soal teknologi, tapi soal ketimpangan informasi yang nyata.
Masalah berikutnya adalah literasi akademik. Banyak guru pemula belum terbiasa dengan format penulisan ilmiah. Mereka belum tau gimana nyusun abstrak, gimana nyusun metodologi, atau gimana menyesuaikan gaya penulisan dengan jurnal yang dituju. Bahkan, istilah-istilah seperti peer-review, DOI, dan impact factor masih terdengar asing bagi sebagian besar dari mereka. Padahal, pemahaman terhadap hal-hal itu sangat penting agar tulisan mereka bisa diterima dan diakui secara akademik (Publisher, 2025).
Masalah lain yang nggak kalah penting adalah minimnya dukungan dari institusi. Tidak semua sekolah atau dinas pendidikan menyediakan pelatihan atau pendampingan dalam hal penulisan dan publikasi ilmiah. Akibatnya, banyak guru merasa berjalan sendiri, tanpa mentor atau komunitas yang bisa membantu. Mereka ingin menulis, tapi nggak tau harus mulai dari mana. Akhirnya, banyak yang milih untuk nggak nyoba sama sekali. Potensi besar yang mereka miliki pun jadi nggak tergali dengan maksimal.
Ada juga anggapan yang masih cukup kuat bahwa menulis artikel ilmiah adalah urusan dosen atau peneliti. Guru dianggap hanya sebagai pelaksana kurikulum, bukan sebagai kontributor ilmu pengetahuan. Padahal, dalam praktiknya, guru justru punya pengalaman yang sangat kaya. Mereka tau apa yang terjadi di kelas, tau gimana siswa belajar, dan tau metode apa yang berhasil atau nggak. Sayangnya, pengalaman-pengalaman ini sering kali nggak terdokumentasi secara formal.
FAKTA
Meski tantangannya banyak, bukan berarti nggak ada harapan. Gerakan Open-Access mulai membawa dampak nyata dalam dunia pendidikan dan penelitian, termasuk di kalangan guru. Menurut UNESCO, dalam Paris OER Declaration (2012), menegaskan bahwa hasil penelitian dan bahan ajar yang dibiayai oleh dana publik seharusnya bisa diakses secara bebas oleh masyarakat. Prinsip ini mendorong banyak negara untuk membuka akses terhadap ilmu pengetahuan.
Saat ini, ada banyak platform OA yang bisa dimanfaatkan oleh guru pemula. Beberapa di antaranya adalah DOAJ (Directory of Open Access Journals), Google Scholar, ResearchGate, dan repositori institusional dari berbagai universitas. Di Indonesia, sistem Open Journal System (OJS) juga semakin banyak digunakan oleh jurnal-jurnal lokal sebagai sarana publikasi ilmiah yang terbuka (Okmarisa et al., 2025). Ini menunjukkan bahwa ekosistem OA di Indonesia sudah mulai berkembang dan bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja yang ingin belajar atau berbagi pengetahuan (Ruang Jurnal, 2025).
Yang menarik, guru pemula sebenarnya punya potensi besar untuk menulis artikel ilmiah. Mereka punya pengalaman langsung di kelas, menghadapi berbagai tantangan pendidikan, berinteraksi dengan siswa setiap hari, dan sering kali melakukan inovasi yang belum pernah terdokumentasi secara formal. Kalau pengalaman-pengalaman ini ditulis dan didokumentasikan, bukan hanya akan memperkaya literatur pendidikan, tapi juga bisa jadi inspirasi bagi guru-guru lain yang menghadapi situasi serupa.
Penelitian oleh Baharuddin et al. (2025) menunjukkan bahwa guru yang aktif menggunakan sumber terbuka cenderung memiliki tingkat inovasi pembelajaran yang lebih tinggi dibandingkan guru yang hanya mengandalkan pada buku teks konvensional. Mereka lebih terbuka terhadap pendekatan baru, lebih adaptif, lebih kreatif, dan lebih berani mencoba hal-hal yang sesuai dengan karakter siswa. Ini membuktikan bahwa akses terhadap sumber terbuka bukan cuma soal membaca, tapi juga soal membuka ruang untuk berkembang.
Tak kalah penting, publikasi ilmiah juga bisa jadi alat strategis untuk pengembangan karier guru. Dalam sistem kenaikan pangkat, karya tulis ilmiah menjadi salah satu syarat utama. Dengan memanfaatkan platform OA, guru pemula bisa memenuhi syarat ini tanpa harus terbebani oleh biaya publikasi yang mahal. Ini adalah peluang besar yang tidak hanya menguntungkan individu, tapi juga memperkuat sistem pendidikan secara keseluruhan.
SOLUSI
Menghadapi tantangan akses terhadap sumber ilmiah dan rendahnya literasi publikasi di kalangan guru pemula, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperkuat literasi digital. Literasi digital di sini bukan sekadar kemampuan menggunakan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup keterampilan mencari, mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi ilmiah secara efektif. Pelatihan yang terstruktur mengenai cara mengakses jurnal Open-Access, menulis artikel ilmiah, dan memahami proses publikasi perlu menjadi bagian dari program pengembangan profesional guru. Program pelatihan ini idealnya diselenggarakan oleh dinas pendidikan, perguruan tinggi, atau komunitas guru yang sudah memiliki pengalaman dalam publikasi ilmiah. Misalnya, pelatihan yang dilakukan oleh Universitas Negeri Yogyakarta berhasil meningkatkan kemampuan guru dalam menulis artikel berbasis penelitian tindakan kelas dan menerbitkannya melalui platform OA (Ningsih & Aviory, 2020). Dengan pendekatan yang praktis dan berkelanjutan, pelatihan semacam ini dapat menjadi pendorong bagi guru pemula untuk aktif berkontribusi dalam dunia akademik.
Langkah berikutnya adalah membangun kolaborasi antara guru dan institusi pendidikan. Kolaborasi ini bisa berbentuk partisipasi dalam seminar, workshop, atau pelatihan bersama. Universitas dapat membuka ruang bagi guru untuk terlibat dalam kegiatan akademik, sehingga mereka tidak hanya menjadi pasif, tetapi juga mitra aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Kolaborasi ini tidak hanya memperluas wawasan guru, tapi juga memperkuat jaringan profesional yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Contohnya, buku ”Publikasi Ilmiah bagi Guru Bahasa Indonesia” yang diterbitkan oleh EDUPEDIA menunjukkan bagaimana guru dapat dilibatkan dalam proses penelitian dan publikasi melalui Open Journal
System (OJS), mulai dari tahap perencanaan hingga penerbitan (Nuryanto et al., 2025). Pendekatan ini membuktikan bahwa dengan pendampingan yang tepat, guru pemula mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan berdampak luas.
Langkah ketiga adalah mendorong lahirnya kebijakan yang mendukung akses terbuka sebagai hak semua orang. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mengakui pentingnya OA dalam memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, dan memberikan intensif bagi guru yang aktif menulis dan menerbitkan artikel ilmiah. Intensif ini bisa berupa penghargaan, tunjangan, atau kemudahan dalam proses kenaikan pangkat. Kebijakan semacam ini akan menciptakan ekosistem yang mendukung partisipasi aktif guru dalam publikasi ilmiah. Langkah terakhir yang nggak kalah penting adalah mengubah mindset bahwa publikasi ilmiah hanya untuk kalangan akademisi. Guru pemula perlu diberi pemahaman bahwa mereka juga memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, terutama yang berbasis praktik lapangan.
HUBUNGAN dengan SDGs
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-4 menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, merata, dan berkualitas bagi semua orang. Dalam konteks ini, akses terhadap sumber ilmiah menjadi kunci. Tanpa akses yang memadai, guru tidak bisa mengembangkan kompetensinya secara optimal, siswa tidak mendapatkan pembelajaran yang relevan, dan sistem pendidikan secara keseluruhan tidak bisa berkembang secara berkelanjutan. Platform OA hadir sebagai solusi konkret untuk mewujudkan pendidikan berkualitas. Dengan OA, guru pemula dapat mengakses referensi terbaru, memahami teori pendidikan yang relevan, dan menerapkan praktik terbaik di kelas. Hal ini berdampak langsung pada, peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa. OA juga memungkinkan guru untuk berbagi pengalaman dan inovasi mereka, sehingga terjadi pertukaran pengetahuan yang sehat dan produktif antar pendidik.
Pendidikan berkualitas bukan hanya soal kurikulum atau fasilitas, tapi juga tentang sumber daya manusia yang kompeten dan terus belajar. Guru adalah ujung tombak pendidikan, dan mereka harus didukung dengan akses yang adil terhadap informasi. OA adalah alat yang bisa mewujudkan hal ini, asalkan didukung dengan kebijakan dan program yang tepat. OA juga bisa menjadi alat untuk memperkuat literasi akademik di kalangan siswa. Ketika guru terbiasa menggunakan sumber OA, mereka akan mendorong siswa untuk melakukan hal yang sama.
Ini akan menciptakan generasi yang kritis dan siap menghadapi tantangan global.
SDGS ke-10 menyoroti pentingnya mengurangi kesenjangan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk akses terhadap ilmu pengetahuan. Dalam konteks pendidikan, kesenjangan ini sangat terasa, terutama antara guru di kota dan guru yang berada di daerah terpencil. Ketimpangan akses terhadap jurnal ilmiah berbayar menjadi salah satu bentuk nyata dari ketidaksetaraan ini. Platform OA hadir sebagai solusi konkret untuk mengatasi ketimpangan tersebut. Dengan OA, guru pemula dari mana pun bisa ngakses referensi ilmiah tanpa harus membayar. Ini bukan hanya soal efisiensi, tapi soal keadilan. Ketika semua guru punya akses yang sama terhadap informasi, maka kualitas pendidikan pun bisa lebih merata. OA juga membuka peluang bagi guru pemula untuk mempublikasikan karya mereka tanpa harus membayar biaya publikasi yang mahal.
Menurut Herliantari (2024), publikasi ilmiah oleh guru merupakan bentuk penyebaran pengetahuan yang dapat meningkatkan mutu pendidikan secara luas. Ketika guru dari berbagai daerah bisa menulis dan dan menerbitkan artikel ilmiah, mereka turut menyuarakan perspektif lokal yang sering kali terabaikan dalam pertukaran ide akademik. Dengan mendukung OA, kita nggak hanya memperluas akses terhadap ilmu pengetahuan, tapi juga memperkuat posisi guru sebagai aktor penting dalam pembangunan pendidikan. Ini adalah langkah nyata dalam mewujudkan SDGs ke-10, yaitu mengurangi kesenjangan dan menciptakan sistem pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
KESIMPULAN
Guru pemula memiliki peran strategis dalam membangun pendidikan yang berkualitas dan inklusif. Dengan memanfaatkan platform Open-Access, mereka bisa mengakses referensi ilmiah tanpa hambatan biaya, menulis artikel berdasarkan pengalaman nyata di lapangan, dan ikut serta dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Ini bukan hanya soal angka kredit atau kenaikan pangkat, tapi tentang membangun budaya literasi dan partisipasi aktif dalam dunia akademik. Tantangan yang mereka hadapi memang nyata, seperti keterbatasan akses, minimnya literasi publikasi, dan kurangnya dukungan institusi. Namun, dengan pendekatan yang tepat, literasi digital kolaborasi dengan akademisi, dan kebijakan yang mendukung semua tantangan itu bisa diatasi. Yang dibutuhkan adalah komitmen bersama untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang adil dan terbuka.
Keterlibatan guru pemula dalam publikasi ilmiah juga sangat relevan dengan agenda global, khususnya SDGs 4 dan SDGs 10. Dengan OA, kita bisa meningkatkan kualitas pendidikan dan mengurangi kesenjangan akses terhadap ilmu pengetahuan. Ini adalah langkah konkret menuju masyarakat yang lebih cerdas, adil, dan berdaya. Akhirnya, kita harus menyadari bahwa ilmu pengetahuan bukan milik segelintir orang. Ia harus bisa diakses, dipahami, dan dikembangkan oleh siapa pun, termasuk oleh guru pemula yang sedang belajar dan tumbuh. Dengan mendukung mereka, kita tidak hanya membangun pendidikan yang lebih baik, tapi juga masa depan yang lebih cerah untuk semua.