Guru Sebagai Role Model Mendorong Generasi Muda Untuk Menggunakan Teknologi Secara Bijak
Perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh
aspek kehidupan manusia, termasuk dunia Pendidikan. Sekolah kini tidak
lagi hanya menjadi ruang belajar fisik, tetapi juga lingkungan digital yang
menuntut semua warga sekolah khususnya guru memiliki kompetensi
literasi digital. Literasi digital bukan sekedar kemampuan mengoperasikan
perangkat atau aplikasi, melainkan kemampuan untuk memahami,
mengevaluasi, dan memanfaatkan informasi digital secara kritis, etis, dan
produktif.
Guru memegang peran strategis dalam membentuk budaya digital
yang sehat di sekolah. Sebagai pendidik, mereka tidak hanya bertanggung
jawab untuk mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi teladan dalam
penggunaan teknologi digitalsecara bijak. Tantangan muncul Ketika tidak
semua guru memiliki kesiapan, pengetahuan, maupun sikap etis dalam
menghadapi arus digitalisasi Pendidikan.
Dalam konteks Pembangunan berkelanjutan, literasi digital guru
sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 4 yaitu
Pendidikan Berkualitas dan (SDGs) nomer 10 yaitu Berkurangnya
Kesenjangan. Literasi digital menjadi kunci dalam menciptakan akses
Pendidikan yang merata, inklusif, dan berkeadilan di era digital. Oleh karena
itu, penting untuk menelaah bagaimana guru dapat menjadi teladan literasi
digital di lingkungan sekolah, baik melalui perilaku, kebijakan, maupun
budaya pembelajaran yang dibangun.
ISI
a. Permasalahan Literasi Digital di Kalangan Guru
Digitalisasi pendidikan di Indonesia berkembang pesat sejak
pandemi COVID-19. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa
kesiapan guru masih beragam. Survei Kemdikbud (2023)
mengungkapkan bahwa hanya sekitar 45% guru merasa percaya diri
menggunakan teknologi digital secara optimal dalam pembelajaran,
sementara sisanya masih mengalami kesulitan baik dari sisi teknis
maupun konseptual.
Beberapa permasalahan utama yang dihadapi antara lain :
1. Kesenjangan Digital Antar Guru
Guru di perkotaan cenderung lebih mudah mengakses
pelatihan dan perangkat digital dibandingkan guru di daerah
terpencil.
2. Kurangnya Pemahaman Etika Digital
Banyak guru yang belum memahami pentingnya keamanan
data, hak cipta, dan jejak digital dalam konteks Pendidikan.
3. Minimnya Budaya Kolaboratif Digital di Sekolah
Masih ada guru yang menganggap teknologi sebagai beban
tambahan, bukan sebagai peningkatan kualitas pembelajaran.
4. Keterbatasan Pelatihan Berkelanjutan
Program literasi digital untuk guru sering bersifat satu kali,
tanpa pendampingan lanjutan.
Permasalahan ini tidak hanya memengaruhi kualitas
pembelajaran, tetapi juga memperlebar kesenjangan digital antar
sekolah dan antar wilayah, yang berarti bertentangan dengan semangat
SDGs 10 yaitu Kurangnya Kesenjangan.
b. Fakta dan Dampak Kurangnya Teladan Literasi Digital
Ketika guru tidak memiliki kesadaran digital yang kuat, murid
pun akan meniru perilaku tersebut. Sebagai contoh, guru yang tidak
mencontohkan etika dalam penggunaan sumber digital (seperti
mengutip tanpa sumber) akan membuat peserta didik terbiasa
melakukan plagiarisme. Begitu pula guru yang tidak bijak
menggunakan media sosial dapat memberikan citra negatif terhadap
profesi pendidik.
Beberapa kasus nyata di lapangan menunjukkan :
1. Guru masih membagikan informasi pribadi murid tanpa izin di
media sosial.
2. Ada guru yang menggunakan konten dari internet tanpa menyebut
sumber.
3. Banyak guru yang belum mencontohkan cara berinteraksi sopan
di ruang digital, seperti dalam forum belajar daring.
Padahal, literasi digital bukan hanya kemampuan teknis, tetapi
juga pembentukan karakter digital (digital citizenship) yang mencakup
nilai kejujuran, tanggung jawab, dan empati. Guru yang menjadi teladan
digital akan menumbuhkan budaya digital yang positif ke sekolah
dimana siswa belajar berpikir kritis, kreatif, dan beretika.
Ketiadaan keteladanan ini berpotensi menurunkan kualitas
Pendidikan (SDGs 4) dan memperbesar kesenjangan pengetahuan
digital antar peserta didik (SDGs 10).
c. Solusi: Membangun Keteladanan Guru dalam Literasi Digital
Untuk menjadi teladan literasi digital, guru perlu membangun
kompetensi, karakter, dan budaya digital yang kuat. Ada tiga aspek
utama yang dapat dilakukan :
1.Penguatan Kompetensi Digital Guru
Guru harus menguasai empat pilar literasi digital
(Kemdikbud, 2022).
a) Kemampuan menggunakan teknologi (digital skilss) : seperti
pengoperasian platform pembelajaran (Google Classroom,
Canva, Microsoft 365, dsb.)
b) Keamanan digital (digital safety) : termasuk perlindungan data
pribadi dan keamanan siber.
c) Etika digital (digital ethics) : yakni memahami norma dan sopan
santun dalam ruang digital.
d) Budaya digital (digital culture) : yaitu memahami dampak sosial
dari teknologi terhadap masyarakat Pendidikan.
Pelatihan guru sebaiknya tidak hanya bersifat teknis,
tetapi juga membahas nilai-nilai etika dan kemanusiaan. Sekolah
dan pemerintah daerah dapat bekerja sama menyelenggarakan
komunitas belajar digital atau digital teacher club yang
berkelanjutan.
2. Menjadi Role Model Penggunaan Teknologi yang Bijak
Guru adalah panutan bagi peserta didik. Oleh karena itu,
perilaku guru di dunia maya harus mencerminkan profesionalitas dan
nilai pendidikan. Contoh sederhana keteladanan digital antara lain :
a) Menunjukkan cara mencari informasi kredibel di internet.
b) Mengajarkan cara mengutip sumber secara benar.
c) Mengelola media sosial dengan etis dan edukatif.
d) Menguunakan teknologi untuk inovasi pembelajaran, bukan
sekedar formalitas.
Dengan demikian, guru tidak hanya mengajarkan literasi
digital, tetapi menunjukkan langsung praktik baiknya, Inilah bentuk
nyata dari Pendidikan karakter di era digital.
3. Kolaborasi dan Kepemimpinan Digital di Sekolah
Sekolah yang ingin menciptakan budaya literasi digital harus
memfasilitasi kolaborasi antara guru, siswa, dan tenaga
kependidikan. Guru dapat menjadi pemimpin transformasi digital
(digital leader) yang menularkan semangat dan kemampuan digital
kepada rekan sejawat. Beberapa langkah praktis :
a) Membentuk tim literasi digital sekolah untuk menyusun
panduan etika digital internal.
b) Mengadakan kegiatan Digital Literacy Week dengan siswa.
c) Mengintegrasikan literasi digital dalam RPP dan kurikulum
merdeka belajar.
d) Mendorong partisipasi aktif dalam pelatihan daring dan jejaring
guru digital nasional.
Ketika guru memimpin perubahan positif, sekolah akan
berkembang menjadi ekosistem digital yang inklusif, sesuai dengan
misi SDGs 4 yaitu Pendidikan Berkualitas untuk Semua.
d. Keterkaitan dengan SDGs Nomor 4 dan 10
1. SDGs 4: Pendidikan Berkualitas
Literasi digital guru merupakan bagian integral dari upaya
meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang melek digital mampu
menciptakan pembelajaran yang inovatif, adaptif, dan relevan
dengan kebutuhan abad ke-21. Penggunaan teknologi yang efektif
memungkinkan pembelajaran lebih interaktif, aksesibel, dan
berpusat pada peserta didik.
Sebagai contoh, pemanfaatan Learning Management System
(LMS) dan Augmented Reality memungkinkan siswa belajar secara
mandiri, sesuai kemampuan masing-masing. Dengan demikian,
literasi digital guru berkontribusi langsung terhadap peningkatan
kualitas pembelajaran dan kesetaraan akses pendidikan,
inti dari SDGs 4.
2. SDGs 10: Berkurangnya Kesenjangan
Kesenjangan digital menjadi salah satu isu global. Di
Indonesia, perbedaan kemampuan digital antar daerah, antar
sekolah, bahkan antar guru masih sangat besar. Dengan menjadi
teladan literasi digital, guru dapat menjadi agen pengurang
kesenjangan ini.
Contohnya, guru di daerah dengan akses terbatas bisa
memanfaatkan sumber daya digital terbuka (Open Educational
Resources) untuk memperkaya materi ajar. Guru yang sudah mahir
bisa membimbing rekan sejawat melalui peer mentoring. Langkahlangkah
kecil ini akan menciptakan efek domino pemerataan digital
di lingkungan sekolah, yang sejalan dengan semangat inklusivitas
dan keadilan sosial dalam SDGs 10.
e. Contoh Implementasi Nyata di Sekolah
Untuk memperjelas peran guru sebagai teladan literasi digital,
berikut contoh konkret yang bisa diterapkan di sekolah :
1. Program “Guru Bijak Digital”
Setiap guru membuat proyek pembelajaran berbasis
teknologi dengan memperhatikan etika digital dan keamanan data
siswa.
2. Kelas Literasi Digital Siswa dengan Guru
Siswa dan guru belajar bersama membuat konten edukatif,
seperti video pembelajaran atau podcast, dengan pesan positif.
3. Etika Digital Mingguan
Di setiap awal pekan, guru memberikan refleksi singkat
tentang nilai-nilai digital (kejujuran, empati, tanggung jawab).
4. Mentoring Antar Guru
Guru yang mahir menjadi mentor bagi rekan sejawat yang
masih kesulitan.
5. Pemanfaatan Media Sosial Sekolah
Guru mengelola akun sekolah untuk menampilkan aktivitas
pembelajaran, bukan sekadar promosi, mendorong literasi dan
komunikasi publik yang sehat.
Praktik-praktik ini menunjukkan bahwa guru tidak hanya
mengajarkan, tetapi juga menghidupkan nilai-nilai literasi digital di
lingkungan nyata sekolah.
C. KESIMPULAN
Guru adalah garda depan dalam menciptakan generasi yang cerdas
digital. Di era di mana informasi begitu cepat menyebar, guru tidak bisa
hanya menjadi pengguna teknologi, melainkan teladan dalam berpikir kritis,
bertanggung jawab, dan beretika di dunia digital.
Keteladanan guru dalam literasi digital berdampak luas:
meningkatkan kualitas pembelajaran (SDGs 4), mempersempit kesenjangan
digital (SDGs 10), dan menumbuhkan budaya digital yang beradab di
sekolah. Dengan kompetensi, karakter, dan komitmen yang kuat, guru dapat
menjadi inspirasi bagi peserta didik dan rekan sejawat dalam menghadapi
dunia digital yang terus berubah.
Membangun teladan literasi digital bukanlah tugas mudah, tetapi
merupakan investasi besar bagi masa depan pendidikan Indonesia yang
inklusif, adil, dan berkelanjutan.
REFERENSI
(Kemendikbudristek 2022, 2022)Indrianti,Tyas,Yusmiati,Santoso, B. (2022).
Pembangunan Berkelanjutan. LLPPM UPN VETERAN YOYAKARTA 951–
952., 5(1), 1–19.
Karpati, A. (2011). Digital Literacy in Education. Policy Brief, May, 1–12.
https://iite.unesco.org/files/policy_briefs/pdf/en/digital_literacy.pdf
Kemendikbudristek 2022. (2022). Capaian Pembelajaran Pada Jenjang Pendidikan
Dasar. In Kemendikbudristek (Issue 021). Laman litbang.kemdikbud.go.id
Horizon Pembangunan Digital Indonesia 2025 – 2030: Gagasan, Kebijakan, dan
Strategi - DOKUMEN.PUB https://share.google/HNlODudAanPhVRS7u
Lampiran 1. Guru Sebagai Teladan
Nama : Nengna Naylatul Isro’ Iyah
NIM : 25111744110
Kelas : D
Judul : Guru Sebagai Role Model Mendorong Generasi Muda Untuk
Menggunakan Teknologi Secara Bijak
Email : [email protected]
WhatsApp : 088989909822