Akasha Natyananta: Manifestasi UAS Apresiasi Sastra Mahasiswa PGSD UNESA Angkatan 2025 sebagai Ruang Edukasi Publik
MAGETAN – Ruang publik Kampus UNESA 5 Magetan bersiap
menjadi saksi lahirnya sebuah ruang kreativitas akademik yang inovatif.
Panggung seni pertunjukan bertajuk Akasha Natyananta dijadwalkan akan segera
membentangkan tirainya esok malam. Pagelaran teater yang diinisiasi oleh
mahasiswa program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri
Surabaya (UNESA) Angkatan 2025 ini merupakan bentuk luaran nyata (output)
sekaligus pemenuhan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk mata kuliah Apresiasi
Sastra. Acara ini dirancang bukan sekadar sebagai pemenuhan nilai akademis,
melainkan sebuah bentuk pertanggungjawaban karya yang mempertemukan teori
sastra dengan praktik panggung secara langsung di hadapan publik.
Sebagai sebuah karya kolektif akademis, pementasan ini
membawa misi untuk menampilkan realitas sehari-hari dari sudut pandang yang
jujur, kritis, dan mendalam. Rangkaian naskah drama yang akan dibawakan oleh
mahasiswa Angkatan 2025 ini secara tajam memotret dinamika kehidupan generasi
muda, mulai dari adaptasi lingkungan perkuliahan, esensi hubungan pertemanan,
hingga pergulatan batin individu dalam menghadapi transisi menuju kedewasaan.
Melalui jalinan dialog yang telah dibedah secara struktural dalam perkuliahan
Sastra, pertunjukan ini berusaha merekonstruksi problematik yang kompleks
menjadi untaian kisah yang dekat, menyentuh, dan mudah diresapi oleh lintas
generasi penonton.
Keunikan dari pagelaran Akasha Natyananta ini juga terletak
pada keberanian mahasiswa dalam mengeksplorasi tata spasial di luar ruang kelas
konvensional. Dengan memanfaatkan area Lobby Kampus UNESA 5 Magetan sebagai
panggung teater alternatif (open-air stage), pertunjukan ini sengaja melebur
batasan antara aktor dan penonton. Pendekatan estetika yang intim ini sengaja
dipilih agar setiap letupan emosi, ekspresi gerak, dan pesan moral yang
tersirat dalam naskah sastra dapat tersampaikan secara langsung dan organik
kepada publik. Hal ini membuktikan bahwa ujian akhir di tingkat perguruan tinggi
dapat dikemas menjadi sebuah festival seni yang interaktif sekaligus edukatif.
Bagi mahasiswa PGSD Angkatan 2025 sendiri, momentum UAS
Apresiasi Sastra ini memiliki nilai filosofis yang sangat mendalam terkait
dengan masa depan profesi mereka sebagai calon pendidik. Keterlibatan aktif
dalam meramu teks, mengolah gerak, hingga memanajemen sebuah pertunjukan besar
merupakan bukti nyata implementasi kompetensi holistik. Melalui panggung teater
ini, para mahasiswa belajar mengasah kepekaan rasa, empati, kontrol emosi,
serta kemampuan kolaborasi kelompok—kualitas-kualitas esensial yang kelak akan
mereka bawa saat terjun langsung membentuk karakter dan mengajarkan bidang
studi sastra kepada generasi masa depan di sekolah dasar.
Kehadiran pagelaran ini sekaligus mengemban fungsi sebagai
ruang advokasi nilai-nilai kemanusiaan dan pelestarian literasi. Di tengah
gempuran arus informasi digital yang bergerak cepat namun sering kali
superfisial, seni pertunjukan teater yang lahir dari rahim akademik ini hadir menawarkan
jeda bagi publik untuk berhenti sejenak, menyaksikan, dan merenungkan kembali
makna-makna kehidupan yang kerap terabaikan. Malam Akasha Natyananta
diproyeksikan mampu memantik ruang diskusi yang sehat di lingkungan kampus,
sekaligus membuka wawasan baru mengenai pentingnya mengintegrasikan metode
pembelajaran berbasis seni (art-based learning) dalam dunia pendidikan dasar.
Menyaksikan pertunjukan ini merupakan sebuah bentuk
dukungan dan apresiasi nyata terhadap proses belajar serta kerja keras yang
telah ditempuh mahasiswa selama satu semester penuh. Kehadiran masyarakat umum,
akademisi, serta sesama rekan mahasiswa di tepi panggung esok hari akan menjadi
bagian integral yang menyempurnakan penilaian estetis maupun akademis dari
proyek ini. Oleh karena itu, publik diundang secara terbuka untuk hadir,
menjadi saksi, dan ikut merayakan sebuah malam penuh cerita di mana esensi
sastra, edukasi, dan refleksi sosial menyatu dalam satu harmoni panggung yang
utuh.